Middle Income Trap? Yuk Atur Uangmu!

Siang tadi saat saya masih berada di rumah orang tua, tanpa sengaja saya menonton tayangan FTV di sebuah stasiun televisi. FTV tersebut berkisah tentang kehancuran rumah tangga sepasang suami istri. Konflik muncul di saat kehidupan mereka yang tergolong ekonomi menengah namun sang istri punya gaya hidup yang high class.

Kesuntukan saya seminggu ini lumayan terobati dengan kualitas akting dan jalan cerita yang begitu mengerikan. Suami yang ganteng, soleh, pekerja keras, sederhana, sabar meski teraniaya–menghadapi sang istri cuantik namun matrenya naudzubillah. Ujung rambut sampai ujung kaki, semuanya wajib ditempeli barang branded. Hiyakat romansa nan rumit tersebut diakhiri dengan pertobatan sang istri setelah keluar dari penjara (yang sudah jadi mantan istri karena ia memilih menikah dengan selingkuhannya yang penipu: dikiranya lelaki kaya tak berujung padahal buaya buntung tung.)

Iya, saya nonton sampai habis~

*

Kisah FTV yang lumayan cringy itu bisa membuat saya tergelak sepanjang tayangan karena kehebatan jalan ceritanya yang abai terhadap logika. Tapi saat dipikirkan lebih jauh lagi, sebenarnya watak-watak seperti itu nyatanya memang selalu ada di dunia ini. Yang suami ganteng, soleh, pekerja keras, dan sabar nan teraniaya?

Oh, bukan.

Itu lho, tokoh sang istri (yang sudah jadi mantan karena kepincut lelaki lain yang dikira lebih kaya).

Berapa banyak barang bermerek yang terbeli karena panasan?

Berapa banyak yang menganggap upgrade alias kenaikan gaji berbanding lurus dengan kenaikan gaya hidup juga?

Dan,

..berapa banyak rumah tangga menjadi rusak karena masalah keuangan?

(Yang terakhir ini agak nyesek, nyesek beneran, nggak berhubungan dengan FTV si mantan istri tadi)

Jawabannya: banyak.

Bicara Soal Literasi Keuangan

Literasi keuangan.

Istilah ini saya kenal pertama kali saat saya memenuhi undangan gathering Kumpulan Emak Blogger (KEB) yang bekerjasama dengan Sinarmas MSIG Life pada hari Sabtu, 9 September 2017 lalu, bertempat di JSC Hive Coworking Space Jakarta Selatan. Undangan bertajuk “Smart Mom, Protect Your Family’s SMiLe” ini menyelenggarakan edukasi keuangan bersama Aakar Abyasa Fidzuno, CEO sekaligus Founder Jouska Financial.

Dalam tulisan kali ini, saya mau cerita tentang ilmu apa saja yang saya dapatkan di sana. Serius, keren banget. Apalagi ini gathering pertama saya di KEB sebagai blogger pemula, dan saya bertemu dengan Emak-emak Blogger lainnya yang jam terbangnya sudah tinggi dan tulisan-tulisannya ciamik, tentunya.

KEB x Sinarmas MSIG Life Team di sesi foto bersama. Photo by KEB.

Acara ini dibuka pukul 10.10 WIB, dan didahului dengan sambutan dari Suandi Sitorus selaku Section Head of Training Quality Assurance di PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG Life. Menurut Pak Suandi, agenda ini bertujuan untuk membantu OJK untuk membumikan literasi keuanganpada masyarakat. Yap, jadi, indeks literasi keuangan rakyat Indonesia sangat minim, baru sekitar 30%. Nah lho, padahal kita sudah sering ya mendengar wacana kalau orang Indonesia punya budaya baca yang minim, ini dikhususkan pula buat literasi keuangan. Hmm.

Suandi Sitorus, Section Head of Training Quality Assurance di PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG Life

Jadi untuk jumlah yang memahami literasi keuangan, seandainya saja patokan jumlah rakyat Indonesia itu masih sama menurut Bang Haji Rhoma Irama yaitu sebesar 250 juta jiwa (noh kan ketahuan umurnya), maka  yang membaca literasi keuangan 250 juta x 30% = 75 juta.  Secara garis besar, 75 juta/250 juta = 0,3, atau dari 10 orang penduduk Indonesia, hanya ada tiga orang yang membaca literasi keuangan.

Note: CMIIW coz’ I really bad at math *tutup muka*

Kenapa harus literasi keuangan?

Seseorang yang melek literasi keuangan akan lebih waspada untuk tidak hidup mengalir untuk hari ini saja, dengan keuangan yang apa adanya. Saat keinginan muncul akibat terpaan iklan dan godaan diskonan di mana-mana, kalau tidak punya pertahanan di segala lini, maka belum tengah bulan keuangan bisa ambyar.

Nah, obrolan soal keuangan inilah yang disampaikan oleh Bang Aakar Abyasa Fidzuno di sesi pertama gathering ini. Sesi pertama? Yap, sesi pertama. Gathering ini memiliki dua sesi. Yang pertama, tentang Edukasi Keuangan bersama Bang Aakar. Sedangkan di sesi kedua, ada materi tentang bullying yang memang sedang marak akhir-akhir ini. Namun agar tulisannya lebih fokus, tulisan tentang bullying akan saya tulis di postingan yang lain.

Mengenali Paradigma Uang

“Siapa yang di sini masih memiliki anggapan ‘Uangmu uangmu, uangku uangku’ dengan suaminya?”, Bang Aakar memulai materi di pagi hari itu dengan sebuah pertanyaan. Ada beberapa emak blogger yang mengacungkan jari. Saya memperhatikan dengan penuh minat, namun tidak ikut mengacung. Lha piye, rekening sama ATM suamik saya semua yang pegang. Huahaha *ups*

Nggak, serius. Suami sudah saya tawarkan buat pegang uang sendiri, dianya nggak mau. Katanya, “Kalau aku yang pegang, belum tengah bulan semuanya udah berubah jadi mainan”, ujarnya sambil cengar-cengir. Lalu, saya mengangguk-angguk, menatap nanar beberapa gitar yang dia beli beberapa waktu yang lalu di sudut ruangan. (Padahal saya juga suka beli alat tulis dan kosmetik. Eh)

Oke, lanjut.

“Ibu ibu, tahu tidak? Prinsip uangmu uangmu, uangku uangku itu rawan resiko perselingkuhan?”

Hah? Ini sangat mengedjoetkan.

Bang Aakar kemudian bercerita, sebagai seorang Financial Advisor ia memiliki 18 orang klien berduit, semuanya holang kayah. Mereka memiliki istri yang juga bekerja, dan mereka memiliki prinsip keuangan yang demikian: uangmu uangmu, uangku uangku. Faktanya, 18 orang klien pria tadi memiliki istri simpanan dan istri pertamanya tahu dan menerima. Kenapa? Karena mereka berselingkuh menggunakan uang sendiri, dan istri tidak dirugikan apa-apa secara materil. Secara perhitungan, hartanya aman dari jangkauan istri kedua maupun suaminya. Selain itu, hak untuk protesnya sebagai seorang istri seperti telah dikebiri, karena sejak awal mereka sepakat untuk memisahkan harta. Sang istri “tidak berhak” untuk mencampuri apa yang dilakukan suami, karena ia memakai uangnya sendiri.

What? Saja terkedjoet doea kali. What kind of society is it? 

Tapi yah, sudah keputusan rumah tangga mereka, mau bagaimana lagi? Begitu pikir saya.

Bang Aakar dari Jouska Financial saat sesi edukasi keuangan “Yuk Atur Uangmu!”

Kabar baiknya, resiko perselingkuhan bisa menurun hingga 1%, apabila suami dan istri memiliki komunikasi yang terbuka soal keuangan. Komunikasi di sini bukan sekedar istri diberi tahu berapa bayak gaji suami, tapi juga masing-masing suami dan istri memiliki keterbukaan (khususnya suami sebagai pencari nafkah utama keluarga) soal keuangan. Suami terbuka tentang gajinya, istri terbuka tentang pengeluarannya, dan sebagainya. Caranya? Salah satunya dengan membuat rekening bersama. Semua pemasukan dan pengeluaran akan mudah tercatat di sana.

Memang benar apa pepatah yang menyebutkan bahwa money is more taboo than sex. Bagi pasangan muda yang baru saja menikah, akan lebih mudah (dan lebih menyenangkan) membicarakan soal impian masing-masing, bulan madu yang romantis di mana, staycation weekend mau ke mana, dan lain-lain ketimbang membahas soal tagihan listrik bulan ini maupun cicilan kendaraan yang belum dibayarkan.

Namun apapun yang terjadi, finansial harus bersifat rasional. Nyatanya, pembicaraan soal keuangan dalam keluarga memang sesuatu yang tidak dapat dihindari dan memang harus dibicarakan.

Bang Aakar lalu memperkenalkan konsep paradigma uang.

Konsep paradigma uang

Ada dua tipe manusia dalam mengelola uang.

Pertama, tipe konservatif. Orang-orang dalam tipe ini memiliki pemahaman bahwa uang adalah alat pembayaran. Prinsip keuangannya go with the flow alias mengikuti arus, hidupnya dijalankan dari paycheck ke paycheck berikutnya. Simpel banget, kan? Ini golongan orang-orang yang memang nggak mau ribet dalam menjalani keuangannya.

Kedua, tipe agresif. Orang-orang yang tergolong tipe agresif bekerja keras menghasilkan uang untuk memberikan kesan dan dapat mempengaruhi orang. Orang lain perlu tahu, seberapa sukses dirinya dari pekerjaan yang ia hasilkan.

Baik tipe konservatif maupun agresif, dua-duanya sama-sama bisa sukses dalam hal keuangan. Pengelolaan uang yang baik bisa membuat si konservatif maupun si agresif sama-sama selamat menjalani hari-harinya. Yang satu sukses dan anteng-anteng saja, dan yang satu lagi sukses tapi show off banget.

Namun, ada hal yang harus diwaspadai. Di antara dua gaya seseorang dalam mengelola uang, ada golongan baru yang masuk ke dalam jebakan. Jebakan itu disebut dengan middle income trap.

Waspada Jebakan Middle Income Trap!

Akhir dari sebuah perjalanan
Mendarat di sudut pertokoan
Buang kepenatan
Awal dari sebuah kepuasan
Kadang menghadirkan kebanggaan
Raih keangkuhan
Tapi tapi itu hanya kiasan
Juga juga suatu pembenaran
Atas bujukan setan
Hasrat yang dijebak jaman
Kita belanja terus sampai mati

(Belanja Terus Sampai Mati-ERK)

Nah, sampai juga di pembahasan ini. Sebenarnya middle income trap itu apa sih?

Middle income trap, simpelnya adalah kondisi di mana seseorang dengan pendapatan menengah tapi gaya hidupnya kelas atas. Nggak ada yang larang sih. Tapi, gaya hidup seseorang amat berpengaruh terhadap keseimbangan keuangan, dan ujung -ujungnya menimbulkan masalah. Bang Aakar mencontohkan, ada seorang karyawan yang mencicil mobil Av*nza. Karena kinerjanya bagus, lalu mobilnya naik kelas menjadi H*nda City. Kinerjanya makin baik, gajinya naik, lalu ganti lagi mobilnya dengan Al*hard.

Oke kan?  Iya.

Tapi, yang jadi masalah adalah, ketika ketiga mobil itu semuanya cicilan..

Kisah dari Bang Aakar, ada seseorang yang bekerja di perusahaan minyak. Kelihatan bagus dan aman, namun ketika statusnya di off kan, ia bangkrut seketika. Ada yang terlihat seperti pengusaha yang terlihat sangat keren, ternyata tidak punya uang. Selain itu, ia juga pernah memiliki seorang klien di kantornya yang punya Ferrari baru 2,5 tahun, ternyata Ferrari itu hasil berhutang, dan ia menggadaikan rumah orangtuanya. Oh my. 

Sebagai seorang Financial Adviser, Bang Aakar banyak sekali menemukan contoh orang-orang seperti itu di lapangan. Ada beberapa hal yang seringkali tidak dapat direm ketika keinginan untuk memiliki sesuatu atau melakukan sesuatu mulai timbul. Apalagi di era post modernisme dan era media sosial sekarang ini, people trying too hard to impress the society.

Fenomena show off ini didukung dengan ruang publik yang setiap sudut kota dan setiap waktunya dijejali berbagai macam iklan traveling hemat maupun promo beli satu gratis satu. Belum lagi, saat jalan-jalan di mall kemudian muncul karyawan Bank X, Bank Y, atau Bank Z yang menawarkan kartu kredit dengan syarat yang semakin mudah. Ada lagi katalog make up atau tunik yang lucu-lucu saat scroll-scroll online shop. Ga niat buka olshop, eeh iklannya muncul di beranda sosmed.

“Ayo kapan kita ke mana, lama gak piknik nih, mumpung masih muda! Yekali nggak ada update-an, kasian followers gue!”

“Mumpung weekend nih, staycation lah ke luar kota”

“Gaji suami naik, masa kejunya tetep Proch*z? Ganti lah ke Kr*ft”

“Eh, belanja sayur sekarang masa’ masih di pasar? Mending ke grocery store atau ranch market. Kehigienisan pokoknya nomor satu”

Nah, di bagian ini, para emak termasuk saya langsung merasa tersentil-sentil. Saya langsung teringat obrolan saya di akhir bulan dengan suami, kalau sudah gajian mau jajan di sini, mau jajan yang itu. Mau beli ini, mau beli itu. Alasannya, ya karena pengen aja. Karena kita bahagia melakukan hal-hal menyenangkan berdua. Padahal, kalau dipikirkan lebih jauh, saya sudah lama ingin tinggal di rumah sendiri. Yap, rumah, Kebutuhan primer yang semakin tidak terjangkau harganya untuk dimiliki dalam waktu dekat oleh pasangan muda (kecuali dapat warisan kali ye).

Nah bicara soal middle income alias pendapatan menengah, ternyata jumlah penduduk Indonesia di golongan itu memang mendominasi. Dikutip dari situs Kemenkeu, kelas menengah adalah seseorang yang termasuk dalam kategori dengan rentang penghasilan antara Rp 2,6 juta sampai Rp 6 juta. Berdasarkan data Bank Dunia, pada tahun 2010 kelas menengah Indonesia mencapai 134 juta jiwa atau 56,5 persen dari populasi. Nah kan, lebih dari setengahnya.

Kenaikan kelas-kelas ekonomi

Jika dilihat dari gambar tersebut, kenapa middle income class jumlahnya sangatlah besar? Karena sangat sedikit jumlah orang yang bisa menaikkan kelas ekonominya menjadi taraf wealthy. Kultur yang terjadi di kelas pendapatan menengah atau middle income class yang menghambat naiknya kelas ekonomi, adalah kebiasaan gaya hidup yang naik mengikuti kenaikan gaji. Kultur terjebak gaya hidup mewah, inilah yang dinamakan middle income trap.

Fenomena OKB alias orang kaya baru adalah salah satu contoh nyata middle income trap. Seperti sang istri di tayangan FTV yang saya tonton itu. Mau contoh yang di dunia nyata? Kasus yang paling hot dari middle income trap beberapa waktu belakangan ini, tentu saja kisah pasutriyang berbagi mie rebus dengan kuah banyak dan secentong nasi berdua, kemudian sukses menjadi agen travel umroh nomor satu di Indonesia. Mereka punya rumah mewah, hobi jalan-jalan ke luar negeri, foto-foto instagrammable yang goals sangat, dan ikut menjadi peserta fashion show di USA. Tidak butuh waktu banyak, jebakan middle income class nyata adanya.

Yah, seenggaknya mereka berhasil menorehkan sejarah *evil grin*

Basic Triangle: Agar Tidak Terpuruk dalam Jebakan

Lantas, apa yang harus dilakukan agar tidak terjebak dalam middle income trap?

Ada panduan sederhana agar kita bisa menangani keuangan dengan baik, dan itu disebut dengan basic triangle.

Current Financial Statement. Sadari dulu, bagaimanakah laporan keuangan kita saat ini. Evaluasi kembali pengeluaran apa yang sebenarnya tidak penting namun mendominasi, dan kebutuhan apa yang sebenarnya penting namun selalu tersisihkan. Meskipun dalam laporan keuangan tercatat bahwa pemasukan naik, namun jika yang diupgrade duluan adalah kebutuhan tersier seperti tas mahal, jam tangan mewah, hingga gawai terbaru maka itu sudah masuk ke dalam jebakan si kelas menengah.

Ibarat mobil yang lintasan balap Formula 1, agar bisa melaju dengan baik maka ia harus berhenti dulu di pit stop. Saat mobil balap berada di pit stop, ia melakukan pemberhentian sementara demi menjaga kualitas perjalanan di arena balap yang lebih baik, entah itu memperbaiki mesin, mengganti ban, atau mengisi bahan bakar. Dalam keuangan, jika kondisi keuangan sedang lesu maka wajib bagi seseorang untuk melakukan perbaikan.

Risk Profile. Seseorang bisa saja menikmati hidup mewah dan bergaya perlente saat ia sedang di atas awan dan menikmati kenaikan gaji. Namun, sampai kapan? Sudah siapkah menghadapi kondisi terburuk saat keuangan tiba-tiba berubah? Saat terjadi sesuatu, apakah gaya hidup bisa turun? Saat bisnis travel terciduk karena diindikasikan adanya skema Ponzi, siapkah tidak memakai dempulan make up setiap hari dan tidak menenteng Hermes Birkin Bag lagi?

Goals. Tentukan tujuan jangka panjang pengelolaan uang. Agar tidak tersesat, ikuti dulu pondasi keuangan agar bangunan ekonomi keluarga tidak runtuh. Jangan memasang genteng dulu kalau pondasi saja belum selesai dibangun. Apa saja pondasi-pondasi tersebut?

Ini loh Kak, pondasinya
  1. Emergency Fund, alias dana darurat. Dana darurat ini bisa berupa dana yang dipersiapkan untuk segala hal yang bersifat darurat, seperti acara keluarga, membantu teman, menolong kerabat yang sakit, atau segala hal-hal tak terduga lainnya. Dana darurat ini dapat dipersiapkan dengan menyiapkan rekening khusus di bank. Alokasi dana darurat bisa diambil 10% dari gaji. (Sumber: Detik Finance).FYI, pengeluaran perempuan sebagai istri biasanya lebih banyak lho daripada suami. Kenapa? Karena pengeluaran istri biasanya bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan untuk seluruh keluarganya, dan juga untuk orang lain. Jadi, perlu dana cadangan yang dipersiapkan agar tidak kebobolan di pertengahan bulan.
  2. Tax, alias segala macam pajak dan sejenisnya yang wajib dibayarkan, mulai dari pajak bangunan, pajak kendaraan, dan lain-lain. Namanya juga pajak yak, sifatnya memang wajib dibayarkan.
  3. Investment, alias investasi dalam bentuk apapun. Investasi ini banyak jenisnya, dari mulai investasi logam mulia, deposito, reksa dana, maupun saham. Semuanya bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing keluarga.
  4. Property, bentuk investasi juga. Investasi tipe ini adalah investasi yang terus berkembang. Sudah sangat jelas, karena setiap orang membutuhkan tempat untuk berlindung dari kelelahan, panas, dan hujan. Untuk pasangan muda yang mau punya rumah, alokasikan 35% dana dari gaji untuk cicilan rumah *ngomong sama diri sendiri, wakakak.
  5. Education, pendidikan itu mahal pak bapak, bu ibu. Entah mau menyekolahkan anak di sekolah umum, pesantren, maupun home schooling, pendidikan dengan kualitas baik itu butuh biaya. Maka, perlu disiapkan dana untuk pendidikan anak. Khusus untuk pasutri yang anaknya masih kecil-kecil dan belum sekolah, dananya bisa dipersiapkan mulai dari sekarang.
  6. Retirement, alias dana pensiun. Buat yang bekerja sebagai PNS, dana pensiun ini sudah dipersiapkan oleh negara, begitu pula pekerja swasta yang sudah lama mengabdi di perusahaannya. Bagaimana dengan kalangan pekerja lepas, pedagang, dan jenis pekerjaan lain yang notabene dana pensiunnya belum dipersiapkan? Karena nggak setiap orang bisa dapat mantu kaya, sok atuh ya dipersiapkan dana pensiunnya mumpung masih usia produktif. Dana pensiun ini bisa dipersiapkan dengan tabungan khusus yang dibuka di bank. Kalau nabung sendiri di celengan, nanti bisa ditilep dikit-dikit waktu sang bunda melihat panci diskonan spesial bulan ini.Psst, Sinarmas MSIG LIfe juga punya program Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) lho. Cekidot di sini.
  7. Insurance, alias asuransi mulai dari asuransi jiwa, asuransi kendaraan, hingga asuransi kesehatan. Menurut Bang Aakar, yang jenis asuransi yang terakhir ini wajib hukumnya. Kenapa? Karena namanya juga manusia, bukan mutan. Manusia tidak kebal dengan segala macam penyakit, dan sakit adalah keniscayaan. Khusus untuk perempuan yang suatu saat akan menjadi seorang ibu, selain momen melahirkan itu adalah pengalaman yang mendebarkan, biaya melahirkannya juga mendebarkan, wakakak..apalagi kalau ternyata harus menghadapi keadaan darurat operasi caesar demi keselamatan ibu dan bayi.

Kenapa harus mempertahankan tonggak pondasi ini dulu? Saat keadaan masih lapang, orang cenderung khilaf dan ingin memiliki segala macam. Nah, bagaimana kalau keadaannya dibalik? Sebaiknya, persiapkan segala sesuatunya mumpung keadaan masih lapang, anggota keluarga masih pada sehat, dan keuangan sedang dalam keadaan yang sebaik-baiknya. Kerja di saat lapang sebelum sempit, agar bisa keluar dari middle income class.

Kalau yang diupgrade kebutuhan tersier dulu demi bergaya kekinian, jatuhnya lagi-lagi ke middle income trap, pak bapak, buibu (*ngomong lagi sama diri sendiri :p) . Jadi saat gaji baru naik, yang diupgrade seharusnya adalah hal-hal di atas, khususnya education fund, emergency fund, dan asuransi kesehatan.  Oh ya, jangan lupa sedekahnya juga ya, biar hartanya jadi berkah 🙂

Ngomong-ngomong soal asuransi saya sebenarnya belum kepikiran untuk memilikinya, karena saya berpikir, mempersiapkan tabungan itu sudah cukup untuk mempersiapkan kemungkinan terburuk. Sampai saya diberi pencerahan oleh Bang Aakar mengenai pentingnya memiliki asuransi, terutama asuransi kesehatan. Bagaimana jika tiba-tiba muncul keadaan emergencyyang membutuhkan dana misalkan 50 juta di hari itu juga demi memperjuangkan kesehatan dari yang tersayang?

Halo 🙂

Kalau bingung pilih asuransi, Sinarmas MSIG Life sebagai perusahaan asuransi yang punya 790.000 nasabah individu dan kelompok di 69 kota punya tawaran yang menarik nih. Produknya juga lengkap abis, mulai dari:

  1. Power Save, sarana perlindungan terhadap risiko kecelakaan sekaligus berinvestasi multi guna dengan uang pertanggungan maksimum hingga 1 Miliar Rupiah.
  2. SMiLe Multi Invest,  investasi singkat yang menguntungkan sekaligus perlindungan jiwa.
  3. SMiLe Personal Accident, alias asuransi kecelakaan untuk perlindungan yang berdiri sendiri sekaligus dapat berfungsi sebagai rider alias asuransi tambahan yang mendampingi selama masa perawatan.
  4. SMiLe Medical, rawat inap di rumah sakit akan terasa lebih mudah. Besar manfaat yang bisa didapatkan dari sini adalah sejumlah nominal yang tertulis pada tagihan kesehatan dari rumah sakit yang merawat dengan maksimum sesuai ketentuan polis. SMiLe Medical juga bisa berfungsi sebagai asuransi tambahan (rider) lho.
  5. SMiLe Hospital Protection Plus, asuransi untuk keamanan finansial dalam menghadapi rawat inap. Dengan produk ini, kita bisa menikmati kemudahan pembayaran biaya pelayanan rumah sakit hanya dengan sebuah kartu.
  6. Selain jenis produk-produk di atas, ada juga Asuransi Unit Link dan Asuransi Syariah yang bisa dicek di sini

Mengenai profil Sinarmas MSIG Life sendiri, dikutip dari situs Sinarmas MSIG Life:

“Akhir tahun 2015, Sinarmas MSIG Life tercatat sebagai 10 besar perusahaan dengan aset terbesar di industri asuransi jiwa, yaitu senilai Rp 15,65 triliun. Total pendapatan premi tercatat senilai Rp 6,59 triliun dengan Angka Risk Based Capital (RBC) yang tetap tinggi, yaitu 466,46% untuk konvensional dan 53,87% untuk syariah. Untuk memperkuat 108 kantor pemasaran yang tersebar di seluruh Indonesia dalam melayani lebih dari 1,2 juta nasabah individu dan kelompok, Sinarmas MSIG Life hadir di kantor manajemen baru di Sinarmas MSIG Tower di area perkantoran Jl. Jendral Sudirman Jakarta.

Brand SMiLe (Sinarmas MSIG Life) diperkenalkan kepada masyarakat luas pada tahun 2013 untuk meningkatkan corporate brand awareness. Upaya penguatan brand SMiLe yang dilakukan sejak tahun 2014 hingga tahun 2015 melalui berbagai media platform, khususnya media sosial, mendapat pengakuan dari majalah Infobank. Sinarmas MSIG Life dinobatkan oleh Infobank sebagai Digital Brand of the Year 2015 Terbaik Ke-3 untuk kategori Asuransi Jiwa pada bulan Maret 2015. Sementara itu, Majalah Investor mendaulat Unit Bisnis Syariah Sinarmas MSIG Life sebagai Asuransi Jiwa Syariah Terbaik untuk Aset di atas Rp 200 Miliar pada Best Syariah 2015 di bulan Agustus 2015.

Masih penasaran? Yuk cek langsung ke situsnya. Saya juga bisa memepertimbangkan Sinarmas MSIG Life nih sama suami *brb hubungi pak suami.

**

Obrolan soal uang memang susah-susah gampang. Susah-susah nyarinya, gampang belanjainnya. Eaa~

Nah khusus saya pribadi, edukasi keuangan dalam gathering KEB ini membuat saya jadi semakin aware  terhadap berbagai macam kemungkinan yang akan terjadi di masa mendatang kalau saya nggak mempersiapkan segalanya saat sedang dalam kondisi lapang.

Apalagi, khususnya bagi perempuan. Seorang perempuan yang suatu saat akan menjadi ibu berada di garda terdepan dalam tonggak kesejahteraan ekonomi keluarga. Untuk itulah perempuan wajib memahami tentang literasi keuangan, baik ia adalah seorang perempuan karier atau seorang ibu rumah tangga.

Thanks to KEB dan SInarmas MSIG Life.

Yuk Atur Uangmu!

p.s:

Artikel ini adalah artikel yang saya pindahkan dari blog Travel-In-Mee milik saya dengan alasan perapian postingan. Isi artikel tidak mengalami perubahan.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *