Content Writing, Angin Segar Bagi Para Blogger

Hari Jumat (20/10) yang lalu adalah hari yang istimewa. Bagaimana tidak, saya yang masih remahan dalam dunia per-bloggingan terpilih untuk menjadi salah satu peserta workshop yang diselenggarakan Indonesian Social Bloggerpreneur (ISB) mengenai content writer *terharu*.

Workshop ini merupakan kerjasama ISB dengan PT. Citra Nusa Insan Cemerlang atau biasa dikenal dengan CNI. Ngomong-ngomong soal CNI, mereka baru saja melangsungkan ulang tahun ke 31-nya dengan meriah lho. Saya juga sempat ke acara CNI Expo di hari Kamisnya dan mengikuti talkshow mengenai Digital Marketing. Peliputan mengenai keseruan acara hari itu akan segera saya tuangkan dalam tulisan selanjutnya. Nantikan yaa.

Dunia Content Writer adalah Angin Segar

Ani Berta, pembicara dalam workshop content writer

Pembicara workshop mengenai content writer ini adalah Ani Berta, atau yang akrab dipanggil dengan sebutan Teh Ani. Teh Ani yang sudah malang melintang di dunia blogging sekaligus content writing ini mengenalkan kepada para peserta mengenai seluk beluk dunia para blogger terlebih dahulu.

“Dunia blogging itu sudah crowded”, ujarnya.

Crowded atau sesaknya dunia blogging saat ini tentu saja maksudnya tak lain dan tak bukan adalah menyangkut berbagai job yang melibatkan para blogger, mulai dari menuliskan review, sponsored post, affiliate content, hingga nge-buzzer. Hal ini tentunya merupakan sinyalemen positif mengingat betapa besarnya peran para blogger sebagai jembatan antara klien dengan para calon customer atau target pasar masing-masing perusahaan maupun organisasi yang membawa berbagai misi hingga ideologi.

Hal pahit dari kesesakan dunia job blogger adalah dari sisi internalnya. Saya mendapati kisah, bahwa ada beberapa kalangan blogger yang sikut-sikutan berebut job, nge-geng, hingga mengucilkan blogger yang lainnya. Lah kok serem ya Mak? Haha. Sebagai orang yang masih piyik dan baru saja nyemplung di medan ini, tentu hal ini sangat menarik untuk saya perhatikan. Tapi Teh Ani berpesan, “Tenang saja. Yang penting mah fokus saja meningkatkan kualitas konten tulisan. Orang sudah punya rejekinya sendiri-sendiri”. Oke siap.

Bicara soal rejeki dan penghasilan para blogger (siap-siap telinga dan badannya ditegakkan, uhuk), Teh Ani memperkenalkan kepada para peserta tentang dunia penulis konten atau yang bisa dikenal sebagai content writer.

Bagi orang-orang yang banting setir dari pekerjaan kantoran menjadi seorang freelancer seperti saya yang penghasilannya bisa angin-anginan (kadang kering tak berangin, kadang sepoi-sepoi), maka dunia penulisan konten adalah angin segar. Kenapa?

Kebanyakan, job blogging itu bersifat amat selektif, tergantung dari berbagai hal seperti kualitas konten, profesionalitas blog (misalkan dengan upgrade domain, uhuk), kesesuaian niche blog dengan calon klien, hingga relasi blogger dengan owner job atau founder komunitas. Yang terakhir ini tentunya berlaku bagi para blogger yang kualitas blognya sudah ciamik dan jam terbangnya tinggi. Lantas, apalah saya yang masih remah-remah kue lebaran ini? Ahaha.

Kenapa Content Writer?

Nah, berhubung penghasilan tidak tetap para blogger adalah sebuah keniscayaan, Teh Ani kemudian memperkenalkan peluang menarik penulis konten dibandingkan dengan menjadi blogger dari segi penghasilan. Jadi, apabila dibandingkan dengan job blogger yang kadang ada-kadang nggak, kadang sepi-kadang ramai, menjadi seorang penulis konten itu bisa memberikan jaminan pemasukan yang tetap bagi para blogger maupun freelancer. Meskipun satu kali fee content writer tidak sebesar fee yang didapatkan dari job blogger, namun pekerjaan content writer cenderung berkesinambungan.

Pertanyaannya, “Kok bisa?”

Bisa dong.

Alasan mengapa menjadi seorang content writer adalah pekerjaan yang menjanjikan, baik sebagai side job maupun full time job, diantaranya yaitu kebutuhan jumlah penulis semakin meningkat. Oleh siapa?

  1. Media online dan website intitusi yang kian menjamur. Mereka membutuhkan para penulis untuk membuat situsnya kian bernas dan nggak kosong melompong belaka.
  2. Para pejabat, selebriti, hingga pemangku kepentingan. Mereka adalah orang-orang berpengaruh, namun tidak semuanya bisa menulis. Seandainya bisa menulis, mereka adalah orang-orang yang sibuk sehingga tidak memiliki banyak waktu untuk menulis, apalagi disambi main Arena of Valor #eh
  3. Kebutuhan produksi konten. Situs apapun baik situs milik sebuah perusahaan hingga organisasi sosial yang bersifat non profit, semuanya membutuhkan konten yang baik dan berkualitas sehingga menunjukkan identitas yang baik bagi mereka.

Memangnya, sebesar apa sih peluang menjadi seorang content writer itu sendiri? Teh Ani mendeskripsikan, selama internet masih hidup maka tidak perlu takut kehabisan peluang. Content writer akan selalu dibutuhkan.

Langkah-langkah Menjadi Seorang Content Writer

Nah, bagaimana caranya mendapatkan penghasilan dari dunia penulisan konten ini? Eits, jangan buru-buru dulu. Belanda masih jauuh~

Sebelum memutuskan menjadi seorang kontributor website dan menulis kontennya, pertama-tama kita harus:

  1. Tentukan tujuan terlebih dahulu, apakah ingin meraih penghasilan atau bertujuan sukarela. Memang ada penulis konten yang tidak dibayar? Tentu saja ada. Sama seperti blogging, penulisan konten tidak melulu seputar dunia para pencari penghasilan tambahan, tapi juga berisi orang-orang yang memang memiliki passion di dunia kepenulisan dan juga berjiwa sosial sehingga tetap happy meskipun tanpa pundi-pundi. Umumnya, penulisan konten tanpa bayaran ini khusus untuk situs milik komunitas atau organisasi non profit yang memang bertujuan untuk social champaign.
  2. Kenali website/portal yang diminati. Ada milyaran situs di dunia ini yang bisa kita sambangi, namun pastinya hanya ada beberapa yang topiknya menarik minat kita. Karena menulis itu tidak sekedar maraton jemari, tapi juga paduan dari kerja otak dan kecondongan hati *tsaah
  3. Karena calon klien pasti akan melihat dulu kemampuan menulis kita sebelum melakukan perekrutan, kita bisa mengisi konten gratisan sebagai portfolio. Blog pribadi hingga status Facebook, sangat bisa tentunya menjadi bahan portfolio kita. Saat saya melamar di salah satu lowongan content writer, mereka memperbolehkan saya mengirimkan contoh tulisan di Facebook jika ada. Apalagi, di era digital ini banyak perusahaan yang melihat pribadi sang pelamar kerja dari status-status di media sosialnya. Memangnya, perusahaan mana yang mau merekrut pelamar yang isi statusnya penuh dengan berita hoax dan kebencian?Mungkin hanya Saracen yang mau. Ups.
  4. Manfaatkan kanal citizen journalism di media mainstream. Misalkan, Kompasiana milik Kompas, Indonesiana milik Tempo, Blog Detik milik detik.com, dan lain sebagainya. Selain bisa melatih kemampuan menghasilkan konten yang bagus, kita juga bisa mendapatkan feedback dari sesama pengguna di kanal tersebut, apalagi jika kita penulis yang aktif di sana.
  5. Promosikan hasil tulisan di media sosial. Pesan Teh Ani, jangan malu untuk membagikan hasil tulisan yang sudah kita buat di berbagai media sosial pribadi yang kita miliki. Selain dapat meningkatkan trafik pengunjung, hal ini juga merupakan sarana dalam membangun self branding diri kita secara pribadi. Memang masih banyak yang menggunakan media sosial sebatas untuk bersilaturahim atau ajang curhat maupun log in untuk main Candy Crush. Namun, jika menjadi seorang content writer merupakan misi dalam waktu dekat ini, membangun citra yang baik dan mengundang positive vibes tentu layak untuk diperjuangkan, bahkan menjadi sebuah kewajiban.

Ada beberapa tips yang dpat kita garis bawahi saat membagikan tulisan di media sosial. Khusus untuk timeline pribadi, mungkin bisa kita batasi satu hari cukup satu postingan, atau maksimal tiga kali sehari dalam waktu yang berbeda (misalkan, saat prime time nya orang-orang menggunakan media sosial). Kenapa? Meskipun artikel-artikel tersebut bernilai positif, tapi kalau langsung makjleg sepuluh artikel sekaligus kita bagikan orang-orang ya eneg toh. Salah-salah, malah di mute atau di-unfollow sama teman sendiri.

Kemudian untuk sharing di grup atau komunitas tertentu, pastikan kita memperhatikan rambu-rambu atau etika tiap komunitas tersebut, karena setiap grup atau komunitas memiliki aturan yang berbeda-beda. Kalau kita ngeyel ngelanggar, bisa-bisa malah di-banned.

Tips selanjutnya, kita bisa belajar dari para online shop handal atau brand kenamaan yang melakukan soft selling alias promosi terselubung dalam tulisannya. Nah, cara ini bisa kita terapkan saat mempromosikan tulisan di media sosial. Tidak serta merta menyebutkan secara hard selling tentang apa yang ada dalam tulisan kita. Misalkan, tulisan berjudul “5 Tempat Wisata Menarik di Probolinggo yang Layak Dikunjungi”, tidak serta merta kita menuliskan caption maupun kata pengantar yang sama di media sosial saat membagikan tautannya. Kita bisa menuliskan pengalaman singkat kita saat liburan ke Probolinggo sebagai pembuka pengantar. “Untuk lebih lengkapnya, sila klik tautannya”. Begitu misalnya.

Mengutip kata-kata Teh Ani Berta, “Belajar modus”. Hehe

Belajar modus ala CNI (Sumber: Fanpage CNI)

Nah sekarang misalkan sudah ngerasa on fire nih buat nulis, eeeh ladhala tiba-tiba stuck dan nggak tahu musti nulis apa. Sudah ada topik, nggak punya bahan yang mencukupi. Sudah punya bahan, belum tahu bagaimana cara memulai (Lho? Haha. Kalau yang ini mah biasanya gara-gara males aja solusinya ya tinggal ditulis aja).

Untuk kasus yang pertama, ini ada tips untuk berburu bahan konten tulisan kita agar lebih berisi saat dikunyah-kunyah. Bahan untuk konten tulisan kita bisa didapatkan dari:

  1. Workshop. Contohnya, workshop penulisan content tulisan oleh Teh Ani Berta yang saat ini sedang saya tuliskan.
  2. Talkshow–apapun itu. Terutama yang sesuai dengan niche blog atau pas dengan minat kita.
  3. Wawancara narasumber, untuk hasil yang lebih kredibel tentunya.
  4. Buku, majalah, surat kabar.
  5. Diskusi forum secara live. Bisa juga disambi membuat draft dan coretan-coretan di notes sebagai bahan tulisan.
  6. Event acara tertentu. Jangan lupa membawa amunisi wajib saat peliputan: buku catatan/notes, alat tulis (tapi tidak perlu lengkap sampai bawa penggaris dan jangka segala), ponsel, alat perekam suara, dan kamera. Sesuaikan dengan kebutuhan.

Semakin banyak sumber, semakin kaya dan berisi pula tulisan kita. Namun terlalu banyak bahan juga biasanya akan bingung mengeksekusi tulisannya. Teh Ani memberi saran, dari satu topik tulisan atau acara yang kita hadiri bisa dibuat menjadi dua hingga tiga tulisan. Hal ini dapat menjaga kejenuhan dan sesuai dengan kaidah psikologis pembaca media digital yang biasanya lebih tahan membaca banyak artikel pendek-pendek daripada satu artikel panjang.

Eh sebentar. Tulisan ini kepanjangan nggak ya?

Do’s & Don’ts!

Jika sekarang Anda sudah menjadi seorang content writer, selamat! Anda sudah memasuki pengalaman baru serupa ghost writer dan memiliki keniscayaan untuk mendapatkan penghasilan tetap. Huehehe.

Kenapa mirip ghost writer? Karena ada beberapa di antara instansi/perusahaan/organisasi yang meminta hak penuh dari tulisan yang kita buat, sehingga credit nama kita tidak dicantumkan. Kalau sudah ada peraturan dan deal seperti ini di awal kontrak, jangan coba-coba untuk melanggarnya.

Penulisan content atau biasa disebut dengan content writing, (yang penulisnya disebut dengan content writer) tetap memiliki rules yang harus dipenuhi oleh para peminatnya yang kini semakin tidak sedikit. Jadi, meskipun bersifat freelance alias tidak perlu terikat jam kerja, seorang calon content writer tetap dituntut untuk bersifat profesional, dan itu dimulai dari semenjak ia memutuskan bergelut di dunia ini.

Ada beberapa hal yang harus dilakukan, ada beberapa hal pula yang tidak boleh dilakukan para content writer. Meskipun instansi/perusahaan/komunitas/organisasinya berbeda-beda, peraturan ini umum berlaku di mana saja.

Keuntungan Menjadi Seorang Content Writer

Ngobrol soal seluk beluk sampai rules dalam dunia penulisan konten, nggak adil rasanya jika tidak menyebut-nyebutkan soal benefitnya. Eh, memang selain dapat *uhuk* duit, ada yang lain?

Pastinya! Nih cekidot segera:

  1. Kita jadi belajar mengenai branding yang baik bagi perusahaan. Branding yang baik bagi perusahaan, tentunya punya dampak secara nggak langsung ke penulis kontennya dong!
  2. Portfolio. Nah, kalau ternyata kita beruntung menjadi klien brand ternama hingga menjadi penulis konten dari situs-situs pemerintahan, pastinya portofolio tulisan kita makin bersinar.
  3. Menjadi seorang social enterpreneur. Secara nggak langsung, kita bisa membantu mengatasi problem sosial dan memahaminya dengan menjadi seorang penulis konten yang terus belajar.
  4. Hobi yang menghasilkan. Kalau ada yang bilang hobi menulis itu bisa menghasilkan (uhuk, duit), menjadi seorang content writer adalah salah satunya.
  5. Tulisan yang kita hasilkan bermanfaat untuk banyak orang
  6. Memiliki relasi yang luas
  7. Meng-upgrade ilmu setiap saat
  8. Meningkatkan wawasan
  9. Meningkatkan skill. Tidak hanya menulis, tetapi juga pengeditan, fotografi, komunikasi, dan lain-lain.

Itu dia ilmu seputar content writer yang saya dapat dari workshop bersama Teh Ani Berta. Terima kasih kepada Teh Ani, ISB, dan CNI yang sudah memberikan kesempatan yang menyenangkan ini. Nah, apakah ada diantara teman-teman yang berminta menjadi content writer? Atau malah sudah menjadi content writer? Yuk share di komen pengalamannya.

Cheers!

You may also like

6 Comments

    1. Semangat mbak! Yang penting kumpulkan portfolio tulisan dulu. Berawal dari hobi nulis, sedikit demi sedikit bisa meningkatkan kualitas tulisan kita ^^
      Saya juga lagi berusaha nih. Terima kasih sudah mampir ya mbak ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *